Rahmat itu serasa menakutkan bagi kaum munafik

Sebagaimana makanan yang lezat terasa pahit bagi orang yang sakit, begitu juga syari’at Islam yang merupakan rahmat bagi semesta alam akan terasa menakutkan bagi orang yang dalam hatinya bersarang penyakit nifaq. Allah membuat perumpamaan tentang mereka:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati[1]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.[2] (QS. Al Baqarah 19)

Dalam ayat yang lalu Allah memberikan perumpamaan yang lain tentang hal ihwal orang-orang munafik itu. Mereka diumpamakan seperti keadaan orang-orang yang ditimpa hujan lebat dalam gelap gulita, penuh dengan suara guruh gemuruh yang menakutkan dan kadang-kadang cahaya kilat menyambar sehingga mereka menutup telinga karena takut binasa.

Demikian halnya orang-orang munafik itu selalu dalam keragu-raguan dan kecemasan dalam menghadapi cahaya Islam. Menurut anggapan mereka Islam itu hanya membawa kemelaratan, kesengsaraan dan penderitaan. Kadangkala pikiran mereka menyebabkan mereka tidak dapat melihat apa yang ada di balik hujan lebat itu (Islam), yaitu unsur yang membawa kehidupan di atas bumi. (Tafsir Depag RI)

Jika kita masih ada rasa ketakutan dengan penerapan hukum-hukum Allah swt; khawatir nanti kondisi berbangsa bakal ruwet?, nanti non muslim bagaimana, apa mereka mau atau akan berontak?, nanti jabatan saya bagaimana? Jangan-jangan nanti justru terjadi pertumpahan darah?… jika ketakutan itu bercokol dalam hati kita, itu pertanda bahwa masih bercokol kuat kemunafikan dalam diri kita,na’udzubillaahi min dzaalik.

Padahal harusnya akal kita mampu mencerna, justru tanpa diatur dengan aturan-aturan-Nya, kondisi bangsa ini makin ruwet; ‘ulama dicari-cari kesalahannya sementara yang bersalah dibela-bela, yang menuntut agar hukum ditegakkan terhadap penista al Quran justru dituduh makar, sementara yang asli makar seperti Petinggi Negara Federal Republik Papua Barat justru tidak direspon secara signifikan. Tanpa penerapan hukum syari’ah justru tiap bulan darah ribuan rakyat tertumpah sia-sia lantaran kriminalitas, aborsi maupun narkoba, tidakkah itu semua cukup untuk membuka mata dan hati? Ataukah menunggu Allah menghilangkan mata yang ‘tidak lagi berfungsi’?. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Sumber asli klik disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: