Archive for April, 2017

Rahmat itu serasa menakutkan bagi kaum munafik

Sebagaimana makanan yang lezat terasa pahit bagi orang yang sakit, begitu juga syari’at Islam yang merupakan rahmat bagi semesta alam akan terasa menakutkan bagi orang yang dalam hatinya bersarang penyakit nifaq. Allah membuat perumpamaan tentang mereka:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati[1]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.[2] (QS. Al Baqarah 19)

Dalam ayat yang lalu Allah memberikan perumpamaan yang lain tentang hal ihwal orang-orang munafik itu. Mereka diumpamakan seperti keadaan orang-orang yang ditimpa hujan lebat dalam gelap gulita, penuh dengan suara guruh gemuruh yang menakutkan dan kadang-kadang cahaya kilat menyambar sehingga mereka menutup telinga karena takut binasa.

Demikian halnya orang-orang munafik itu selalu dalam keragu-raguan dan kecemasan dalam menghadapi cahaya Islam. Menurut anggapan mereka Islam itu hanya membawa kemelaratan, kesengsaraan dan penderitaan. Kadangkala pikiran mereka menyebabkan mereka tidak dapat melihat apa yang ada di balik hujan lebat itu (Islam), yaitu unsur yang membawa kehidupan di atas bumi. (Tafsir Depag RI)

Jika kita masih ada rasa ketakutan dengan penerapan hukum-hukum Allah swt; khawatir nanti kondisi berbangsa bakal ruwet?, nanti non muslim bagaimana, apa mereka mau atau akan berontak?, nanti jabatan saya bagaimana? Jangan-jangan nanti justru terjadi pertumpahan darah?… jika ketakutan itu bercokol dalam hati kita, itu pertanda bahwa masih bercokol kuat kemunafikan dalam diri kita,na’udzubillaahi min dzaalik.

Padahal harusnya akal kita mampu mencerna, justru tanpa diatur dengan aturan-aturan-Nya, kondisi bangsa ini makin ruwet; ‘ulama dicari-cari kesalahannya sementara yang bersalah dibela-bela, yang menuntut agar hukum ditegakkan terhadap penista al Quran justru dituduh makar, sementara yang asli makar seperti Petinggi Negara Federal Republik Papua Barat justru tidak direspon secara signifikan. Tanpa penerapan hukum syari’ah justru tiap bulan darah ribuan rakyat tertumpah sia-sia lantaran kriminalitas, aborsi maupun narkoba, tidakkah itu semua cukup untuk membuka mata dan hati? Ataukah menunggu Allah menghilangkan mata yang ‘tidak lagi berfungsi’?. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Sumber asli klik disini

Panji Rasulullah Bagi Kita

https://plus.google.com/+FelixSiauw1453/posts/ZYStqqzUXAT?_utm_source=1-2-2

Tiap-tiap ummat punya panji yang mereka junjung tinggi, yang menggambarkan keadaan mereka dan mewakili mereka, tanda dari apa yang mereka yakini
Panji yang mengibarkan semangat mereka, tekad mereka, dan tentu saja sesuatu simbol yang mereka banggakan lebih dari diri mereka sendiri, yang teristimewa
Adakah yang lebih kita banggakan dibandingkan hidayah Islam yang Allah telah mudahkan bagi kita? Yang dengannya syahadat mampu kita lafadzkan lewat lisan kita?
Dengan syahadat itu kita mulai menjadi hamba Allah, menekuni tiap perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mencoba memurnikan ibadah agar layak mendaoat surga
Dengan syaahdat itu kita menjadi warga Muslim sedunia yang bersaudara tersebab diikatkan hatinya oleh Allah, tersebab keyakinan yang tak lekang oleh apapun
Maka adakah panji yang lebih cocok bagi kita selain apa yang dibawakan Rasulullah bagi ummatnya? Kalimat tauhid yang terukir pada kain hitam dan putihnya?
Sejelas tanda-tanda keberadaan Allah di muka bumi ini, sejelas itulah kalimat tauhid digores pada kain putih, dan sejelas itu pula kalimat tauhid digores pada kain hitam
Panji hitam dan putih ini pula yang dikibarkan saat Rasulullah memasuki kota selepas ekspedisi fii sabilillah, panji tanda kemenangan, dan keselamatan hidup
Dilanjut dari generasi ke generasi, panji ini tetap menemani sejarah panjang kaum Muslim dan segala kegemilangannya, panji ini tetap setiap dikibarkan ummat
Sebab ia kebanggan, tekad, semangat, keyakinan, cita-cita, dasar hidup, sebuah pernyataan yang mewakili Muslim ke tengah-tengah ummat yang lainnya
Bahwasanya di muka bumi ini tak ada yang layak disembah melainkan Allah, dan Muhammad saw adalah utusannya yang paling baik tuntunan dan teladannya
#PanjiRasulullah

#MasirahPanjiRasulullah

#IslamRahmatanLilAlamin

Salah satu keutamaan Zikir Petang

Dzikir Sore 11

Dibaca 3x

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma’as-mihi syai-un, fil ardhi wa laa fis-samaa’, wa huwas-samii’ul ‘aliim.

Dengan nama Allah, yang tidak akan berbahaya dengan namaNya, segala sesuatu di bumi dan langit, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

HR. Abu Dawud 4/323, At-Tirmidzi 5/465, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Shahih Ibnu Majah 2/332, Al-Allamah Ibnu Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39.

Keutamaan:
Dari Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang setiap pagi dan sore membaca doa ini 3x: (doa di atas), maka dia tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya.

Suatu ketika Aban bin Utsman salah satu sisi tubuhnya mengalami kelumpuhan. Tiba-tiba ada seseorang yang melihatnya (keheranan). Aban marah: Kenapa lihat-lihat. Hadis tentang bacaan di atas telah aku sampaikan, namun hari ini aku lupa mengucapkannya, agar takdir Allah ini mengenai diriku.

Imam al-Qurthubi mengatakan: Ini adalah hadis yang shahih, perkataan yang benar. Saya meyakini kebenarannya dari dalil dan terbukti di dunia nyata. Sejak saya mendengar hadis ini, saya selalu mengamalkannya, sehingga tidak hal berbahaya yang mengenai diriku, kecuali jika aku lupa membacanya. Suatu ketika di madinah, saya disengat kalajengking. Kemudian aku ingat-ingat, ternyata aku lupa membaca dzikir tersebut. (al-Futuhat ar-Rabbaniyah, 3/100).

Dibagikan melalui aplikasi “Apa Doanya”. Tersedia untuk Android, BlackBerry 10, Windows Phone/Desktop, Windows 10, Nokia X, Firefox OS dan BlackBerry OS 6-7. Unduh di http://wp.me/p3ieiY-b

Sumber: Hisnul Muslim dan http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian/posts/153719264728140

Mulailah mempersiapkan diri menuju ALAM AKHIRAT

DUNIA adalah tempat manusia hidup sekarang. Di alam ini manusia dilahirkan, dibesarkan, dan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas. Di alam ini juga akan diwafatkan. Dunia bersifat fana, tidak abadi. Pada saat yang telah ditentukan itu tiba, ia akan hancur berkeping-keping. Musnah, tidak berbekas. Inilah yang di sebut dengan hari kiamat.

Sedangkan yang disebut akhirat adalah tempat kembali manusia setelah kematian menjemputnya. Di alam ini manusia akan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas perbuatan selama di dunia. Bahagia atau sengsara tergantung pada perbuatannya sebelum mati. Karena itu, RasulullahShalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Al-dunya mazra’atu-l-akhirah (dunia merupakan tempat menanam, yang hasilnya akan dipetik di akhirat kelak).”

Bagi manusia yang beriman dan beramal saleh akan ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sebaliknya, manusia yang tidak percaya kepada Allah, akan menghuni neraka yang penuh dengan siksa. Bahagia dan sengsara pada saat itu merupakan pilihan manusia seutuhnya saat berada di alam dunia.

Kehidupan di alam akhirat ini bersifat abadi, kebahagiaan yang dirasakan penghuni surga tidak akan pernah berakhir. Mereka selamanya dalam rida Tuhan. Juga kesengsaraan yang dialami para pengikut iblis dan setan, ingkar kepada Allah, takkan pernah berujung.

Sang pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’alamenjelaskan tentang hakikat dunia ini melalui Jibril kepada Muhammad:

Katakanlah, kesengsaraan dunia ini hanya sedikit, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu sekalian, baik yang bertakwa maupun yang tidak bertakwa, tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. An-nisa: 77).

Orientasi hidup seorang muslim seyogyanya diarahkan untuk kehidupan akhirat. Sebagai implementasi konsep ini, sesibuk apa pun kegiatannya ia akan menyempatkan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Di atas level ini, seorang muslim akan menjauhkan diri dari suatu pekerjaan atau jabatan tertentu yang akan memungkinkannya lupa kepada Tuhan dan melanggar larangan-larangannya.

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan, sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sempurna jika mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Hiburan dan permainan tak punya pengertian yang abadi, kecuali sebagai persiapan kita untuk bekerja dengan sungguh-sungguh di dunia ini. Tidak lain hidup ini adalah masa persiapan untuk hidup yang sesungguhnya, yakni pada Hari Akhirat. Segala kehampaan dunia ini hendaknya digunakan untuk apa yang kiranya akan memberikan manfaat, tapi jangan sampai membelokkan pikiran kita dari segala yang kita perlukan untuk kehidupan kita yang benar-benar penting.

Sesungguhnya kamu akan mendapatkan manusia yang paling berambisi terhadap kehidupan di dunia. Bahkan yang berambisi lagi adalah orang-orang musyrik. Masing-masing mereka mendambakan agar diberi umur seribu tahun. Padahal umur panjang itu tidak akan dapat menjauhkan dari azab. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 96).

Seperti Minuman Anggur

Dunia mempunyai daya pikat yang luar biasa besarnya. Keindahan dan kemegahan isi dunia seperti minuman anggur yang memabukkan. Siapa saja yang meminumnya akan terbuai dan akhirnya lupa akan nasibnya di kehidupan yang abadi.

Manusia yang selalu tenggelam dalam kesenangan duniawi akan merasa hidup ini hanya sekejap waktu. Karena kondisinya umpama orang mabuk, tiada dirasakannya usia telah menjelang senja. Akibatnya, ia pun merasa kecewa, belum merasa puas terhadap apa yang telah dinikmatinya. Kehidupannya masih menggebu, sementara kondisi fisik sudah tidak kuat lagi. Pada saat inilah mereka tertimpa putus asa dan gelisah hati. Hatinya belum rela dan belum siap meninggalkan segala kenikmatan dan kemegahan yang dialaminya saat masa muda dulu.

Mereka pun berharap usianya terus bertambah. Bukan untuk tujuan bertobat, melainkan agar tetap bisa mencicipi hasil jerih payahnya di tempat-tempat hiburan yang terlarang.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali Imran: 14).

Setiap manusia akan merasa senang jika di sampingnya ada perempuan yang disayanginya, anak-anak, dan kekayaan hasil usahanya. Perasaan semacam ini kemudian melahirkan rasa memiliki. Jika mereka meninggalkannya, sedih perasaan hatinya. Padahal istri, anak, dan harta merupakan titipan (amanat), kita harus menjaga dan memperlakukan mereka sesuai dengan ajarannya.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Dunia berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan ke depan. Keduanya memiliki pengikut. Jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Sebab, hari ini adalah amal dan bukan hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada amal.”

Manusia jangan terpancing, terlena, dan tertipu oleh dunia, sehingga melupakan kehidupan akhirat. Banyak di antara manusia yang percaya kepada akhirat, tetapi amat sedikit yang beramal dengan amalan akhirat. Di antara amal akhirat ini adalah shalat, puasa, haji, zakat, infak, sedekah, menjadi orang tua angkat, menjadi orang tua asuh, dan menberikan bea-siswa.

Jika kebutuhan terhadap dunia terus kita turuti, maka tidak akan pernah selesai. Manusia yang rakus tidak akan pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimilikinya. Tanda kerakusannya itu adalah dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tetapi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah kepada sesama. Padahal satu hal yang pasti bahwa semua harta itu akan ditinggalkannya. Saat menjadi mayat, tubuhnya hanya dibalut kain kafan putih. Selanjutnya yang akan menemani kita di alam kubur dan alam akhirat adalah amal kita.

Selagi Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup, gunakanlah untuk melakukan kebaikan sebagai persiapan kita menghadapnya. Bukankah kehidupan akhirat itu lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia?

*Muhammad Zul Arifin (Dari buku Rindu Kematian, Cara Meraih Kematian yang Indah, penulis Ustadz Muhammad Arifin Ilham)

%d bloggers like this: