Geniuskah anda???

Geniuskah Anda? Mungkin Anda serta merta menjawab: tidak. Bisa menjadi geniuskah Anda? Anda barangkali ragu-ragu mau menjawab apa. Tapi, It Pin Arifin akan menjawab dengan tegas: bisa, dan malah harus (walaupun akhirnya, tergantung berapa usia Anda saat ini).

Arifin percaya bahwa setiap orang bisa menjadi genius. Kepercayaan inilah yang mendasari penulisan bukunya, Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya—Bagaimana Mencetak Genius yang Bahagia (Gramedia, 2011). Arifin, dalam buku ini, berbicara tentang bagaimana cara mencetak genius. Ya, mencetak!

Diskusi perihal apakah kegeniusan itu dilahirkan atau diciptakan sudah lama berlangsung. Bukan hanya di kalangan psikolog, tapi juga ahli-ahli di bidang sosiobiologi sibuk bersilang pendapat apakah kecerdasan merupakan warisan genetis (nature) atau karena gemblengan alam (nurture).

Kecerdasan dan kegeniusan tak ubahnya misteri yang berusaha dibongkar rahasianya. Sampai-sampai otak Albert Einstein pun dikeluarkan dari tempurungnya, diiris-iris, diteliti, dan disimpan sampai kini. Sebagian ilmuwan penasaran apa yang membedakan otak Einstein dari otak orang lain sehingga ia menjadi fisikawan cemerlang yang mampu melahirkan teori relativitas. Benarkah ukuran otaknya lebih besar dari normal. Apakah IQ-nya yang 160 memberi kontribusi terbesar, atau ada rahasia lain?

Berbagai percobaan sudah dilakukan untuk menguji orang-orang cerdas. Pecatur hebat Garry Kasparov pernah diadu-tanding melawan komputer IBM Deep Blue. Setelah sempat mengalahkan mesin buatan manusia itu, Kasparov kemudian kalah dalam pertandingan ulangan. Ada pula ilmuwan yang mengujikan kepada anak-anaknya cikal bakal teori bahwa genius bisa dicetak.

Arifin memaparkan berbagai upaya itu untuk memperkuat pandangannya. Ia percaya bahwa IQ bukanlah penentu kecerdasan dan keberhasilan. Gen bukan harga mati dan pada dasarnya tidak ada orang yang dilahirkan dalam keadaan bodoh. Otak terbukti memiliki kemampuan beradaptasi dan berubah. Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa otak yang sering digunakan akan membuat seseorang jadi cerdas. Ibarat pisau, makin diasah semakin tajam.

Kita yang hidup di masa kini mengenal Isaac Newton sebagai sosok genius, sementara teman-temannya lebih mengenal Newton sebagai sosok yang luar biasa gigih. Teman-temannya kerap khawatir kesehatan Newton merosot karena belajar keras. Einstein menghabiskan belasan tahun mempelajari matematika sebelum memasuki perguruan tinggi.

Amadeus Mozart, sensasi abad ke-18, dikenal sebagai anak ajaib yang mampu memainkan karya klasik di usia enam tahun. Tak heran bila Mozart dijadikan contoh oleh para pendukung teori bakat turunan sebagai contoh. Namun, Michael Howe, dalam karyanya Genius Explained, menyebutkan bahwa Mozart telah berlatih 3.500 jam sebelum usia enam tahun.

Banyak contoh dipaparkan di buku ini tentang orang-orang yang dianggap genius “dari sononya” sebenarnya adalah para pembelajar yang tak kenal letih. Richard Feynman kecil tidak terpilih untuk disertakan dalam eksperimen mencetak anak-anak genius karena IQ-nya waktu itu dianggap tidak superior. Namun belajar kerasnya selama bertahun-tahun kemudian membuktikan bahwa Feynman layak memperoleh Hadiah Nobel bidang fisika.

Karya-karya hebat, pendeknya, lahir dari kerja keras. J.R. Hayes menunjukkan bahwa 10 tahun adalah waktu yang dibutuhkan untuk para pengarang agar menjadi ahli di bidangnya. ‘Aturan 10 tahun’ ini juga berlaku di bidang lain, seperti matematika, tenis, renang, dll.

Malcolm Gladwell, dalam Outliers, menyebutkan ‘kaidah 10.000 jam’. Gladwell mencontohkan bahwa saat Beatles meraih popularitasnya untuk pertama kali, John Lennon dkk. sudah naik panggung sebanyak 1.200 kali, sebagian besar di klab malam di Hamburg, Jerman.

Pertanyaannya: kerja keras seperti apa? Anders Ericsson memperkuat aturan itu dengan prinsip deliberate practice atau ‘latihan khusus yang membutuhkan konsentrasi dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan terus-menerus’. Jadi, jika Anda ingin jago bermain biola, mengikuti kursus yang hanya seminggu sekali tidak pernah cukup. Anda harus meluangkan waktu sekian jam setiap minggu untuk berlatih sendiri dengan konsentrasi penuh.

Di samping dimensi fisik, yakni berlatih terus dengan konsentrasi penuh, diperlukan dimensi lain untuk mencapai kesukesan tinggi. Ini terkait dengan bagaimana kita mengorganisasi pengetahuan di dalam otak, yang tergolong dimensi mental. Manusia yang dikenal cerdas diketahui memiliki kemampuan dalam menata pengetahuannya. Mereka mengenali pola-pola di dalam informasi yang mereka serap dan menatanya, atau diistilahkan sebagai chunking.

Berpikir, bekerja, dan berlatih dengan gigih untuk menambah ‘jam terbang’ hanya dimungkinkan bila seseorang memiliki dimensi emosional yang kuat, yakni motivasi yang terfokus. Nah, berapa banyak di antara kita yang mampu terus-menerus menjaga nyala api dalam diri kita? Dan motivasi yang sangat kuat, menurut Arifin, hanya mungkin lahir bila seseorang meyakini suatu misi kehidupan. Inilah yang disebut Arifin sebagai dimensi spiritual, sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk tidak gampang menyerah.

Nah, sekarang, bagaimana dengan Anda. Siap menjadi genius? **

Advertisements

3 responses to this post.

  1. wah asik sekali baca tentang orang2 yang jenius dan cerdas, bisa sebagai bahan untuk mendidik anak2 kita kelak, bahwa tak mustahil menjadi orang yang cerdas dalam bangsa yang agak semrawut ini. hanya lingkungan yang harus di jaga agar kecerdasan tidak di salah gunakan. terima kasih..

    Like

    Reply

  2. saya percaya saya bisa jadi jenius…. bahkan dengan segala kekurangan saya. insya Allah..

    Btw,,, tahukah anda ada 7 golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat? golongan apa sajakah itu?
    http://andretauladan.blogspot.com/2011/12/7-golongan-yang-allah-naungi-di-hari.html

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: