Hortikultura di Gorontalo

Saat masih kuliah dulu, saya berpikir bahwa bertani itu mudah. Hanya tinggal menerapkan teknologi yang telah ada. Sekarang setelah lulus kuliah, ternyata anggapan saya berbalik 180 derajat. Banyak faktor lain yang mempengaruhi kegiatan pertanian itu sendiri. Khususnya untuk petani di wilayah tempat saya bekerja, Gorontalo. Petani di Gorontalo kebanyakan menanam padi dan jagung. Sisanya adalah kelapa, cokelat dan komoditi hortikultura. Untuk komoditi hortikultura sendiri sangat terbatas jenis tanaman yang meraka tanam. Misalnya untuk jenis sayuran hanya terong, tomat, cabe rawit dan kangkung saja yang menjadi tanaman favorit di wilayah ini. Sedangkan untuk komoditi lain seperti cabe kriting, bayam, kacang panjang, ketimun dan  paria hanya ditanam oleh beberapa petani saja. Tanaman hortikultura umumnya ditanamami di daerah sekitar perkotaan. Hal ini terkait dengan faktor pemasaran dan pengadaan saprodi. Biasanya mereka langsung menjual hasil panen mereka ke pasar, namun tidak sedikit petani yang menunggu pengumpul untuk datang ke lahan mengangkut hasil panen meraka. Menurut saya, untuk masyarakat asli gorotalo, pengolahan komoditi hortikultura masih terbilang belum variatif. Untuk menu makanan yang sering saya jumpai di warung-warung, kebanyakan hanya olahan terong, kangkung dan kacang panjang, tentunya dengan rasa pedas yang luar biasa.   Beberapa fackor penyebab kurangnya komoditi hortikultura yang ditanam di wilayah Gorontalo adalah selera masyarakatnya, kondisi wilayah, dan pemasaran. 1. Selera masyarakat: Jenis olahan sayuran masyarakat gorontalo sangat terbatas, seperti yang saya sebutkan di paragraph sebelumnya, bahwa sayuran yang paling sering mereka konsumsi adalah sayur olahan terong, kangkung, dan kacang panjang. untuk komoditi horti dataran tinggi kebanyakan di datangkan dari wilayah Kotamobagu,, Sulawesi Utara. 2.Kondidi wilayah: Salah satu yang menjadi penyebab terbatasnya jenis hortikultura di Gorontalo adalah kondisi wilayahnya. Di daerah ini hampir tidak ada dataran tinggi, yang ada hanya wilayah perbukitan. Tidak seperti di Sulawesi Utara, khususnya di wilayah Modoinding (Kotamobagu), kemudian di Palolo dan Napu untuk wilayah Sulawesi Tengah, serta Malino di Sulawesi Selatan. Meskipun curah hujannya bisa dikatakan lebih tinggi dibandingkan dengan Sulawesi Tengah, tetapi suhu udaranya masih tergolong panas. rata-rata 29-33 derajat celcius. Oleh karena itu, untuk mengusahakan jenis tanaman wortel, kubis, bawang daun, dan sayuran dataran tinggi lainnya agak sulit di Gorontalo. 3.Pemasaran: Pemasaran komoditi hortikultura di Gorontalo bisa dibilang masih belum meluas. Hal ini berkaitan erat pula dengan selera masyarakatnya sendiri. Sedangkan untuk pemasaran antar daerah, Gorontalo masih kalah bersaing dengan propinsi tetangga mereka yaitu Sulut dan Sulteng. Dari beberapa faktor di atas, maka kebijakan dibidang pertanian wilayah Gorontalo lebih difokuskan pada pengembangan komoditi padi dan jagung. Hal ini cukup jelas terlihat dengan program yang digalakakan oleh pemerintah propinsi. Wilayah kabupaten Pohuwato menjadi area sentral jagung terbesar di Gorontalo. Sepeti inilah gambaran hortikultura di Gorontalo. Meskipun tulisan ini bukan merupakan hasil riset secara ilmiah, namun penjelasan yang saya buat tidak lepas dari kondisi real perkembangan pertanian yang saya alami sendiri di Gorontalo. –Ikbal Buntaran–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: