Daster Istriku

DASTER ISTRIKU

Senyum tersungging dari sudut bibirku saat keluar dari pekarangan rumah Bu Tati. Kugenggam erat amplop yang baru saja diberikannya. Hasil mengantar jemput sekolah anaknya yang masih SD dengan sepeda motor butut satu-satunya yang kupunya.
“Ini Pak, ongkos ojek Aulia bulan ini. 24 hari jadi 240 ribu, saya genapkan 250 ribu. Semoga bermanfaat ya Pak,” ujar Bu Tati sesaat menyerahkan amplop.
Mengojek, profesi yang terpaksa kulakoni sejak di PHK dari pabrik roti dekat rumah. Pesangon yang tidak seberapa kubelikan motor lama dan kugunakan untuk mengojek.
Memang hasilnya sangat pas-pasan, hanya cukup untuk makan sehari kami berlima. Untuk menambah pemasukan, Ratmi, istriku berjualan aneka jajanan. Hasilnya cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan sekolah Riska, Anas, dan Tri.
Bukan tak ada usaha lain yang kucoba. Ijazah SMA yang kupunya sudah kumasukkan kesana kemari namun belum pernah ada panggilan.
Aku melangkah keluar dari rumah besar itu dan memacu motor perlahan ke arah pasar, berharap mendapat penumpang. Sejenak berhenti di jalan masuk ke pasar, melihat kiri dan kanan sekiranya ada calon penumpang yang butuh tumpangan.
Seketika mataku tertuju kepada salah satu pedagang baju daster dengan suara cemprengnya di sudut pasar.
“Mari Bu Ibu.. Mak Emak.. Nda Bunda.. Mi Ummi.. dipiliihh.. dipiliihh.. baju dinas adem.. daster murah.. bikin tambah disayang suami..” teriaknya dengan penuh semangat.
Kuarahkan laju motor ke arah sana.
“Mari Pak.. dipilih buat nyonyah di rumah, muriih..murihh..gurihh… “ tawarnya ramah saat motorku semakin mendekat. Aku turun dari sepeda motor.
“Berapa ini Bang?”
“Murah saja, Pak. Dua puluh lima rebu.”
Kuraih baju yang terpajang, kuraba kainnya. Motif dan modelnya sama persis dengan salah satu yang dimiliki Ratmi, hanya beda warna. Kasar, pasti bahannya panas, pikirku.
Pikiranku melayang pada Ratmi di rumah, beberapa hari yang lalu kulihat dia duduk terpekur hingga tak menyadari kehadiranku sepulang mengojek. Ternyata dia sedang menjahit bagian dasternya yang sudah robek.
“Ah, hanya untuk daster murahan seperti ini bahkan tak sanggup mengganti,” bathinku pilu.
“Gak ada yang lebih bagus dari ini Bang?”
“Banyak, Pak. Tapi beda harga. Ini yang dipajang di dalam. Harganya variatif. Yang bagusnya saya bandrol harga 65 ribu. Untuk bapak saya kasih 60 ribu deh,” ujarnya antusias sambil bergerak lincah mengeluarkan barang yang di dalam.
“Ya udah, saya ambil yang ini, pink bunga-bunga. Tunggu ya…”
Aku menyingkir keluar lapak abang penjual daster, mengeluarkan amplop di saku celana. Uang yang sekiranya akan kugunakan untuk membayar kontrakan rumah bulan ini. Dengan tangan gemetar menarik lembaran biru dua lembar, lalu kembali masuk ke dalam. Setelah menerima kembalian, aku beralih ke lapak penjual buah, membeli sekilo jeruk dan salak pondoh, buah kesukaan anak-anak.
Matahari sudah tepat di atas kepala, aku memutuskan pulang sebentar untuk makan siang.
“Assalammu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam…” sahut Ratmi menyalami tanganku.
“Ini Buk’e, buah untuk anak-anak. Terus, ini ada baju untukmu,” ujarku menyerahkan bingkisan ke tangannya.
Dengan cekatan dia membuka bungkus yang kukatakan untuknya. Matanya membelalak tak percaya saat mengeluarkan isinya.
“Apa ini Pak? Ya Allah.. Alhamdulillah.. Terimakasih Pak. La ngopo to Pak repot-repot beli ini. Punyaku kan masih bisa dipakai. Huu..huu…” dia malah menangis terisak-isak.
“Lhoo.. kok malah nangis. Tak kira bakalan seneng.”
“Aku nangis kadung senengnya. Tapi apa gak papa Pak? Kebutuhan kita masih banyak, uangnya kan bisa untuk itu. Kenapa malah belikan aku baju? Lagian ini pasti harganya mahal,” rentetnya sambil mengelap ingus.
“Gak apa-apa. Insyaa Allah ada rezeki lain dari pintu lain,” ujarku tersenyum.
Mulutnya masih mengucapkan hamdallah berkali-kali saat melangkah ke dapur mempersiapkan makan siang. Meskipun aku bingung memikirkan biaya kontrakan yang kurang, namun dalam hati ada sebuah kebahagiaan yang tak terungkapkan. Makan siang kali ini begitu nikmat.
Setelah shalat Dhuhur dan bersiap kembali mengojek, handphone milik bersama berbunyi. Ratmi yang mengangkat.
“Pak’e, telepon dari Bu Tati untuk sampeyan,” ujarnya seraya menyerahkan HP yang dilakban karena retak casing.
Aku menyambutnya segera.
“Iya..iya Bu. Baik, insyaa Allah besok pagi.. Alhamdulillah.. allahu akbar..”
Selepas istri manajer di sebuah perusahaan itu menutup teleponnya, aku terduduk lunglai di kursi plastik di teras, seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja diterima.
“Ada apa Pak’e?” tanya Ratmi khawatir.
“Alhamdulillah… Allah mendengar do’a kita Buk’e. Bapak diterima langsung bekerja di perusahaan suaminya Bu Tati. Bagian kebersihan di sana kemarin pindah mendadak, jadi Bapak disuruh kerja menggantikan. Besok pagi disuruh datang untuk pembicaraan lebih lanjut,” terangku.
“Alhamdulillah Yaa Allah,” ujarnya mengangkat kedua tangan ke atas lalu mengusapkannya ke seluruh wajahnya.
Kupandangi dirinya yang sudah mengenakan daster pink bunga-bunga yang tadi kuberikan, dia begitu sederhana, namun selalu cantik di mataku. Tak sadar,mataku berair, begitupun dirinya.

Sandra Ayu-

Advertisements

5 Manfaat Minum Air Lemon: Cegah Batu Ginjal Hingga Mulut Bau

Air lemon menjadi salah satu tren kesehatan yang sedang populer akhir-akhir ini. Diperas atau hanya direndamkan lemon saja, air lemon tetap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Apa saja? Dikutip dari India Times, berikut 5 manfaat konsumsi air lemon bagi tubuh, mulai dari mencegah batu ginjal hingga menghilangkan bau mulut. Berikut penjelasannya:

1. Cegah batu ginjal
Kandungan asam sitrat pada lemon dapat mencegah terjadinya batu ginjal. Ingin ginjal sehat? Pakar sarankan konsumsi minimal setengah gelas air lemon setiap hari.

2. Lancarkan BAB
Minum air lemon hangat usai bangun tidur membantu membuat racun-racun yang mengendap di saluran cerna, sekaligus memperlancar buang air besar.

3. Tangkis pilek
Demam dan pilek bisa dicegah dengan rutin minum air lemon. Tinggi antioksidan dan vitamin C, minum air lemon satu gelas setiap hari juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

4. Hilangkan bau mulut
Mulut bau setelah makan bawang putih atau ikan? Kumur dengan air lemon saja. Konsumsi air lemon menstimulasi produksi air ludah lebih banyak dan mencegah mulut kering, serta mengeliminasi bau.

5. Baik untuk diet
Lebih banyak minum air lemon bisa membantu membuatmu merasa lebih kenyang. Konsumsi air lemon juga meningkatkan metabolisme tubuh karena kandungan pektin di dalamnya.

Sumber:

https://health.detik.com/read/2018/06/11/173658/4064414/763/5-manfaat-minum-air-lemon-cegah-batu-ginjal-hingga-mulut-bau

Jadi, bila ingin sehat secara alami, sebaiknya manfaatkan jenis buah-buahan yang ada di sekitar kita. Sebagaimana yang kita tahu bahwa dengan hidup sehat secara alami, tubuh kita akan terhindar dari berbagai penyakit baik yang disebabkan oleh patogen, zat radikal bebas, maupun efek samping penggunaan obat-obatan kimia sintetis.

Ikbal Buntaran

Menggapai Cahaya di Pertengahan Malam

Oleh: H Khumaini Rosadi
Bermimpilah selagi kamu masih punya cita-cita. Berharaplah selagi kamu punya asa. Mungkin quotes seperti ini bisa juga dijadikan sebagai motto atau kata mutiara dalam hidup agar lebih optimis dan ceria. Buat apa hidup dibikin susah? Lebih baik berusaha dan berdoa. Apalagi berdoa pada saat Nishful Lail atau pertengahan malam. Itulah Nur. Cahaya–saat yang tepat untuk berdoa.
Nur Lailatun Nishfah adalah cahaya di pertengahan malam. Harapan terkabulkannya doa-doa. Sebagaimana cahaya yang menerangi dari kegelapan, mengantarkan manusia kepada kebahagiaan. Karena pada pertengahan malam inilah waktu yang golden time (saat emas), waktu yang sangat berharga untuk berdoa.
Sebagaimana dalam ayat-Nya, surat al-Muzzammil ayat 1-4 disebutkan, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
Golden time dalam Islam bukan seperti di sinetron yang mengajarkan berdoa saat ada bintang jatuh. Waktu yang mustajabah dalam Islam tidak seperti orang ulang tahun lalu sebelum tiup lilin make a wish dulu. Itu bukan ajaran Islam. Islam mengajarkan waktu yang efektif dan efisien untuk kita berdoa adalah pada pertengahan malam. Ketika orang-orang terlelap tidur dengan mimpinya, sementara kita bangun berdoa menghadapkan diri kepada Allah SWT.
Lalu di manakah sebaiknya kita berdoa? Di mana saja doa bisa dilakukan. Di dalam masjid sambil beritikaf pada sepuluh malam terakhir, bisa. Inilah waktu yang mustajabah. Tidak dalam masjid, bisa juga di rumah, di kantor, di sekolah, di pos sambil jaga malam juga bisa.
Boleh berdoa sendiri-sendiri. Boleh dilakukan secara berjamaah. Caranya pun bermacam-macam. Bisa dengan memperbanyak sholat Sunnah tarawehnya. Bisa dengan memperbanyak baca alquran dan shalawat nabi. Bisa dengan berdiskusi masalah keagamaan. Bisa dengan bersedekah makanan atau uang. Bisa juga dengan memperbanyak dzikir dan doa khas bulan Ramadhan seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’. Artinya “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku.” (H.R. Tirmidzi)
Sayang, jika sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan disia-siakan. Sebisa mungkin kita manfaatkan Nishful Lail. Semoga pada pertengahan malam kita bisa qiyamullail–menghidupkan malam Ramadhan–baik di awal malam, di pertengahan malam, atau di akhir malam menjelang subuh menjadi waktu yang mustajabah. Segala masalah terselesaikan dengan baik. Segala penyakit tersembuhkan dengan lekas. Segala susah segera berganti mudah. Segala benci berubah menjadi cinta. Segala hutang terlunaskan segera.
Begitulah kekuatan doa. Doa adalah senjatanya orang yang beriman. Dengan doa dapat mengubah takdir. Doa menjadikan segala yang mustahil menjadi pasti. Sesombong-sombongnya manusia adalah manusia yang tidak pernah berdoa. Allah berjanji, “Berdoalah kepada-ku, Aku akan kabulkan permintaanmu.” (Q.S. al-Mukmin: 60).
Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Tidim Jatman).

Sumber: NU online

Kerjakanlah apa yang kamu dakwahkan kepada saudaramu

Bismillah

(١)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)

artinya:

2. Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?[5]

3. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

subhanallah…. betapa Allah subhanahu wata’ala sangat keras peringatannya kepada kaum muslimin berkaitan dengan apa yang dikerjakan oleh seorang muslim harus sesuai dengan apa yang diucapkannya. Sebab jika terbalik, maka akan menjerumuskannya kepada golongan munafik.

Dalam Islam kita dianjurkan untuk menyeryukan kebenaran Islam dan mendakwahkannya kepada saudara2 kita sesama manusia. Namun, janganlah apa yang disampaikan itu bertolakbelakang dengan perbuatan kita. Misalnya, menyerukan agar menjaga sholat wajib 5 waktu, akan tetapi kita sendiri lalai dalam hal tersebut. Maka tidak heran jika Allah subhanahu wata’ala sangat keras mengingatkan kita dan membenci perbuatan demikian.

wassalam


Penulis:

Ikbal Buntaran IG personal @ikbalbuntaran, IGweb @berbagi_bersama_hpai/

#MariBerbagi

ikbal87.wordpress.com

Dari Bertani sampai Budaya

Penjelajahan wilayah sentral pertanian di Kecamatan Parigi – Moutong. Sejak tahun 2011 saya terjun lansung ke dunia pertanian sampai saat ini di tahun 2017, saya melihat bahwa kesuksesan pertanian di daerah Sulawesi Tengah terfokus di daerah pusat transmigrasi. Beberapa di antaranya adalah daerah Tolai, Kotaraya,  Sausu, dan Toili. Sementara daerah non-transmigrasi yang menjadi sentra pertanian hanyalah di sekitaran Soni-Bangkir dan sekitarnya.

Kemungkinan asumsi saya yang menjadi faktor pendukung kesuksesan adalah kulutr dari masyaraka itu sendiri. Sekali lagi saya katakan ini masih asumsi, belum berdasarkan hasil studi penelitian semisal survei langsung ke daerah tersebut. Namun asumsi ini bukan berarti tidak beralasan. Beberapa hal yang saya jadikan dasar pertimbangan saya adalah hasil pantauan dilapangan dan membandingkannya dengan daerah lain yang sebenarnya memiliki potensi wilayah yang sama namun sektor pertaniannya tidak berkembang. Contohnya daerah Sigi-Biromaru yang berada di jalur timur, khususnya Kec Marawola, Kab Ampana mulai dari Kec Tojo sampai Ampana Tete. Selain daerah transmigrasi yang saya sebutkan tadi, daerah-daerah lainnya belum ada yang menyaingi.

Ada satu wilayah yang non-transmigrasi yang sebutkan, yakni Soni-Bangkir dan sekitarnya. Nah coba kita telusuri, wilayah tersebut juga daerah pemukiman warga pendatang, bukan warga asli setempat. Mari kita cari daerah pertanian yang penduduk aslinya sukses bertani. Mungkin kita akan memasukkan desa Sibalaya yang berada di Kab Sigi, tapi anda tahu berapa luasannya? Hanya sekitar 300 ha, itu pun kita belum menghitung volume panennya dalam setahun, tentunya masih tertinggal jauh. Sebab kesadaran dan kemampuan budidayanya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan warga transmigrasi.

Jika kita bandingkan lagi dengan propinsi tetangganya yang berada di bagian selatan, kita akan menemukan perbedaan yang signifikan. Dimana antusiasme warga lokal dalam membangun sektor pertaniannya sangat tinggi. Coba bayangkan jika daerah-daerah transmigrasi di wilayah Sulteng tadi kita keluarkan dari data pertanian Sulawesi Tengah, maka yang terjadi adalah warga Sulawesi Tengah akan defisit beras bahkan sampai terancam kelaparan. Bagaiman tidak mungkin terjadi, warga lokalnya hanya mengandalkan sektor perkebunan dan hutan saja. Sementara yang bertani untuk tanaman palawija dan hortikultura hanya sedikit dan itu pun masih menggunakan teknologi seadanya dan kadang sangat mengirit biaya produksi, kalo perlu tidak usah mengeluarkan biaya sedikit pun boleh jadi. Apalagi kalo berbicara tentang budiaya tanaman hortikultura. Dan yang saya ketahui, warga lokal yang membudidayakan komodity hortikultura hanya di wilayah Kec Labuan dan Kec Mepanga (sekitar Kotaraya). Akan tetapi, persentasenya lagi-lagi jauh jika dibandingkan dengan warga pendatang.

Jadi, sebagai salah satu warga keturunan masyarakat asliLembah Palu, saya menghimbau kepada seluruh sarara-sampesuvuku pura. Mari kita tingkatkan kualitas sumberdaya kita. Maaf, mungkin tulisan ini cederung berpaham chauvinisme, namun menurut saya ini penting dan bahkan hukumnya fardhu. Sebab jika tidak demikian, kita hanya akan menajdi penonton di rumah sendiri. Sungguh memilukan bukan?

Kita lihat saja nasib masyarakat melayu Singapura yang terpinggirkan oleh dominasi etnik pendatang, baik dari etnik Tionghoa, India, Arab dan Eropa. Populasi dan dominasi mereka di bidang ekonomi sangat luarbiasa. Warga lokal hanya menjadi jongos di kampung sendiri, bila ada yang menjadi bos di sektor bisnis mungkin hanya bisa di hitung dengan jari. Itupun hanya jari tangan saja, jari kaki tidak masuk hitungan, hehehe… Mudah-mudahan tidak sampai separah itu.

Tidak menutup kemungkinan hal demikian akan terjadi di tanah kita ini. Memang warga transmigrasi tersebut masih masuk dalam lingkup saudara sebangsa dan setanah air. Tapi sungguh sangat miris jika warga lokal hanya menjadi penonton di derahnya sendiri.

Bila hal itu terjadi, bisa jadi kebudayaaan serta kearifan lokal yang mestinya bisa kita eksplorasikan dan pertahankan di tanah sendiri akan terkikis habis oleh budaya dan kultur masyarakat yang berasal dari luar tanah ini.

Wah, diawali dari bicara soal pertanian sampai nyambung ke masalah budaya. Kelihatannya tidak nyambung, tapi begitulah keadaannya. Ketikahal-hal semacam ini luput dari perhatian kita, maka tak terasa nanti hal-hal besar pun akan berlalu tanpa kita sadari. Mungkin saja beberapa tahun kedepan anak-anak kita sudah tidak mempelajari bahasa lokal di bangku sekolah. Padahal bahasa merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Selain bahasa, pakaian, makanan, alat musik lokal pun akan hilang dan tidak akan pernah lagi diajarkan untuk anak keturunan kita, yang ada adalah generasi kita kehilangan identitas sejarah daerahnya. Saat ini pun sudah sangat terasa dimana dokumentasi dan sumber-sumber sejarah tanah ini mulai hilang. Untungnya sejarah kebudayaan kita masih terselamatkan dengan adanya situs megalitikum yang berada di Lembah Bada, Besoa, Napu (Kab. Poso) dan sebagiannya di Kab. Sigi.

Kalo bukan kita sediri yang menjaganya, siapa lagi?

Allah Maha Melihat

Sebagai seorang guru tasawuf, Syekh Atho’ Assilami sangat disegani oleh para muridnya. Meskipun hanya berjumlah tujuh orang, ada saja salah satu di antaranya yang menjadi kesayangan Syekh Atho’. Namanya Ibrahim. Dasar maslah hati, mau disimpan bagaimanapun kecintaan Syekh Atho’ pada Ibrahim tetap terbaca oleh keenam murid lainnya. Praktis, hal itu menimbulkan kecemburuan tersendiri di kalangan mereka.

Syekh Atho’ ternyata menyadari hal itu. Namun, ia pun juga tak ingin menimbulkan perselisihan dengan menjelaskan secara panjang lebar kelebihan Ibrahim dibanding teman seperjuangannya itu. Takut jikalau itu malah tidak objektif dan terlalu dilebih-lebihkan. Yang justru, nantinya malah akan meningkatkan rasa kecemburuan di antara mereka, para muridnya.

Akhirnya, Syekh Atho’ pun memiliki cara yang lebih elegan. Dipanggilnya ketujuh muridnya untuk diberi tugas. Ia berkata kepada murid-muridnya,

“Wahai anak-anakku. Sembelihlah ayam ini, namun jangan sampai ada siapa pun yang mengetahuinya. Siapa pun ia,” perintah Syekh Atho’ tegas.

Setelah kesemuanya menerima ayam dan sebilah pisau, ketujuh muridnya lalu dipersilakan untuk mencari tempat sesuka mereka. Tanpa pikir panjang dan tunggu lama, murid-murid itu pun bergegas mencari lokasi yang tepat, yang tersembunyi, yang—menurut mereka—tidak akan terlihat oleh siapa pun.

Tak selang beberapa lama, satu per satu murid Syekh Atho’ pun kembali dengan membawa ayam yang telah terpotong lehernya. Sambil berkata congkak bahwa mereka yakin tak ada siapa pun yang mengetahuinya.

Tetapi, setelah sekian lama, ada salah satu murid Syekh Atho’ yang tak kunjung kembali. Ya, ia adalah Ibrahim, murid kesayagannya. Semua temannya heran, mengapa ia begitu bodohnya mencari lokasi tersembunyi, batin teman-temannya. 

Berbeda dengan Syekh Atho’, ia justru tampak tenang sekali. Ternyata, beberapa saat kemudian Ibrahim kembali dengan ayam yang masih hidup. Tanpa pisau yang berdarah, dan ayam yang masih juga bersih.

Syekh Atho’ pun dengan bangga lantas bertanya, “Wahai Ibrahim, mengapa ayammu masih hidup? Bukankah aku perintahkanmu untuk menyembelihnya?”

“Maaf sang guru, bukannya saya hendak melawan perintah Anda. Namun, saya benar-benar tak bisa menyembelih ayam ini tanpa diketahui siapa pun. Bagaimanpun juga, saya tidak bisa mengingkari hati nurani saya bahwa di mana pun saya berada, Allah akan tetap melihat apa yang saya kerjakan,” jawab Ibrahim dengan lugunya.

Sontak, seluruh temannya tertunduk malu. Bagaimana mereka begitu yakin, jika tidak ada siapa pun yang melihat perlaku mereka. Padahal sang guru telah mendidik hatinya sedemikian rupa, agar mereka selalu menancapkan Allah dalam relung sanubari. 

Lewat kejadian itu pun, para murid akhirnya sadar mengapa sang guru begitu sayang terhadap Ibrahim. Dan sejurus dengan kesadaran mereka, Ibrahim lantas dipersilakan duduk di samping gurunya itu. Sedang Syekh Atho’ tanpa berkata apa pun, kembali terpejam dan melanjutkan dzikirnya. (Ulin Nuha Karim)

Kisah ini disarikan dari buku “Menuju Ketenangan Batin”, kumpulan karya tulis KH M Cholil Bisri (Kompas, 2008)  

Inilah 5 Hal yang Tidak Boleh Ibu Rumah Tangga Lakukan di Sosial Media

Inilah 5 Hal yang Tidak Boleh Ibu Rumah Tangga Lakukan di Sosial Media http://www.ummi-online.com/inilah-5-hal-yang-tidak-boleh-ibu-rumah-tangga-lakukan-di-sosial-media.html

  11 Oktober 2017, 11:24:21 WIBRubrik : Pasutri
  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 12483 Kali

Inilah 5 Hal yang Tidak Boleh Ibu Rumah Tangga Lakukan di Sosial Media

Sahabat Ummi, sosial media saat ini sudah menjadi sesuatu yang pasti dimiliki oleh setiap orang yang terhubung ke internet, tak terkecuali ibu rumah tangga. 

Akan tetapi, selain manfaat yang diberikan, kita perlu mewaspadai hal negatif yang mungkin ditimbulkan dari interaksi di sosial media. Berikut ini beberapa hal yang tidak boleh dilakukan ibu rumah tangga di sosial media:

1. Curhat masalah rumah tangga

Banyak ibu rumah tangga yang terjebak melakukan curhat di akun sosial medianya. Padahal cara ini sangat mungkin mendatangkan keburukan di kemudian hari, minimal membuat orang sekitarnya tidak bersimpati padanya karena membuka aib diri sendiri.

Sebenarnya jika caranya tepat, curhat di sosmed masih bisa dilakukan. Misalnya dengan menyembunyikan identitas atau menyamarkan permasalahan:

“Saya punya teman yang suaminya blablabla, sebaiknya bagaimana ya menasihati suami seperti itu?”

Menyembunyikan identitas lebih baik daripada curhat, “Suami saya blablabla… mertua saya blablabla…”

2. Pamer kecantikan

Sebentar-sebentar upload foto selfie, upload ootd (outfit of the day), dengan tujuan untuk menangguk pujian dari followers.

Apa sih niat memperlihatkan foto selfie dan ootd cantik kita? Pamer kecantikan di depan suami malah malas, padahal berpahala, tapi pajang foto di sosmed rajin sekali, hal seperti ini perlu diwaspadai.

3. Pamer kemesraan

Mesra dengan pasangan hidup sendiri amat baik, tapi ketika kemesraan tersebut diposting ke ranah publik dengan begitu seringnya, justru berpotensi membawa akibat buruk untuk rumah tangga kita.

Banyak orang yang hasad atau iri, bahkan dengki sehingga ingin melenyapkan kebahagiaan orang lain. Tentunya kita tak ingin postingan kita di sosmed menjadi boomerang seperti ini.

4. Pamer anak

Hal bahaya lainnya yang banyak dilakukan oleh ibu rumah tangga di sosial media adalah memamerkan anak, baik kelucuannya maupun kerupawanan anak kita. 

Sayangnya, hal ini berisiko mendatangkan penyakit ‘ain:

Ibnul Atsir Rahimahullah berkata, “Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit,” (An-Nihayah 3/332).
Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal. Akan tetapi Rasulullah menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah bersabda, “Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya,” (HR. Muslim).
Contoh kasus, foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media. Kemudian bisa saja terkena ‘ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti. Padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit. Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit.
5. Membuli orang lain dengan kata-kata

Ibu rumah tangga juga sebaiknya tidak melayangkan status atau komentar negatif di sosial media, baik berupa kata-kata kasar, sindiran, makian, atau bentuk bulian lainnya.

Foto ilustrasi : Google

%d bloggers like this: